Ad-Dien / Agama Menurut Qur’an

Pengertian Ad-Dien

Para pemikir Barat tidak sepakat dalam memberikan definisi agama, masing-masing mendefinisikan agama dari sudut yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan dangkalnya pemahaman mereka terhadap agama. Dalam Encyclopedia of Philosophy, philosof-philosof terkenal memberikan definisi masing-masing, ada yang mengatakan agama itu tidak lebih daripada konsep morality / akhlak, ada juga yang mengatakan agama itu sesuatu yang menyentuh hal-hal ruhaniyyah / spiritual saja, ada pula yang mendefinisikan agama dengan ritual / upacara penyembahan.

Sejak abad ke 4 sebelum Masehi lagi, falsafah adalah merupakan sumber pemikiran Barat. Plato dan Aristoteles berpendapat bahwa alam ini ada dengan sendirinya (Being qua being), tidak ada kaitan dengan kekuasaan tuhan. Kemudian pada abad ke 17 masehi Barat mengalami paradigm shift (perubahan paradigma) mereka tidak lagi berkiblat pada filsafat aristoteles, akan tetapi mereka mulai memberikan perhatian kepada filsafat yang baru muncul pada era enlightment, yaitu positivisme.

Dengan lahirnya paradigma yang dipelopori oleh Isaac Newton ini, metaphysic (yang mana agama dimasukkan kedalam salah satu kategorinya) dipisahkan daripada sains. Sains dijadikan sesuatu yang mutlak, tidak diragukan kebenarannya kerana sains dihasilkan melalui scientific methods (eksperimen, verifikasi dll.) sedangkan metaphysic dan agama menurut Hume adalah berdasarkan illusi semata-mata. Dengan keangkuhan mereka agama mulai disudutkan, agama dikatakan opium yang merusak manusia.

Dalam era inilah Sekularisasi dihasilkan sebagai senjata untuk melawan pengaruh agama terhadap manusia. Menurut Prof. al-Attas (ketua ISTAC) Sekularisasi adalah suatu program falsafah yang beroperasi untuk mematerialisasikan alam (disenchantment of nature) menafikan kesakralan politik (desacralization of politics) menghapuskan nilai-nilai luhur (deconsecration of values). Seorang sosiologis Jerman Max weber tidak menafikan hal ini bahkan dia menyimpulkan bahwa tujuan sekularisasi adalah untuk membebaskan alam ini dari pengaruh petunjuk ajaran agama.

Tidak heran apabila kebanyakan pemeluk agama hanya menumpukan pada akhlak, spiritual, dan ritual. Agama menurut pandangan mereka harus terpisah dengan kehidupan nyata, agama tidak boleh mencampuri urusan politik, ekonomi dan sosial. Agama hanyalah tempat ritual yang dikunjungi pada waktu-waktu tertentu. Tetapi bagi ummat Islam apakah hal ini berlaku pada Islam? Sejauh manakah peranan agama dalam perspektif Islam dalam mengatur kehidupan manusia?

Kajian Bahasa

Agama dalam konsep Islam disebut Dien Kata Ad-Din berasal dari kata دان يدين و دينا yang berarti tanggungan, hutang, keharusan penegakan peraturan. Ad-Din adalah huatang yang harus dibayar dan dipertanggung jawabkan, atau peraturan yang harus dilaksanakan. Dalam kamus Bahasa Arab disebutkan beberapa kemungkinan makna دين dalam Al-Qur’an diantaranya adalah : 1) السلطان والحكم = kekuasaan, 2) الطاعة =ketaatan, 3) الجزأ = pembalasan, 4) العادة = kebiasaan, 5) الحساب = perhitungan, 6) الملة = agama.[1]

Penggunaan kata Ad-Din dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an mengungkapkan kata Ad-Din sebanyak 92 kali. Secara umum kata Ad-Din diungkap pada surat-surat Makiyah sebanyak 47 kali. Dan pada surat-surat Madaniyah sebanyak 45 kali. Melihat pengungkapan kata Ad-Din pada ayat Makiyah dan Madaniyah, maka dapat pula dikatakan bahwa porsi kata Ad-Din pada keduanya berimbang. Walaupun lebih banyak pada surat-surat Makiyah. Kondisi ini mengindisikasikan bahwa di Makkah dakwah Islam untuk memperkenalkan ajaran yang dibawa Muhammad, sedangkan pada zaman Madaniyah lebih pada penataan atau pendalaman Ad-Din.

Ayat Makiyah

Ayat Madaniyah

Pola Ayat

36

26

دِينِ

-

5

دَينٍ

1

-

دِينِ

1

3

دِينًا

2

9

دِينُكُم

-

2

دِينِهِ

5

5

دِينِهِم

2

1

دِينِي

Apabila mengkaji ad-Din dalam ayat-ayat Al-Qur’an, dapat ditari kesimpulan bahwa kata Ad-Din mengandung empat makna yang saling terjalin satu sama lainnya dan tak dapat dipisahkan. Karena makna satu dengan makna yang lain saling menjelaskan, sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Makna-makna tersebut adalah sebagai berikut :

a. Penyerahan Diri

إن الدين عند الله الإسلام وما اختلف الذين أوتوا الكتاب إلا من بعد ما جاءهم العلم بغيا بينهم ومن يكفر بآيات الله فإن الله سريع الحساب

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 19)md.

Makna Ad-Din pada ayat diatas yakni, kepatuhan kepada Allah dan ketetapan-Nya, berikrar dengan ucapan dan hati tanpa rasa takabur, tidakj menyekutukan-Nya dengan yang lain serta tidak pula berpaling dari-Nya. Aplikasinya dengan ibadah dan rendah diri (tunduk), taat pada perintah-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya.[2]

قل إني أمرت أن أعبد الله مخلصا له الدين(11) وأمرت لأن أكون أول المسلمين(12)

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”.(Q.S. Az-Zumar [39]: 11-12)mk.

Dua ayat tersebut menjelaskan supaya manusia beribadah kepada Allah secara ikhlas. Penyembahan terhadap sesuatu hanya dapat terjadi karena seseorang merasa lebih lemah terhadap sesuatu yang memiliki kekuasaan dan kekuatan. Sehingga, dengan penyembahan ini si lemah merasa mendapat perlindungan dan terhindar dari rasa kekhawatiran dan ketakutan.

Tegasnya, pada ayat tersebut bahwa seluruh alam semesta beserta isinya telah tunduk, taat, dan berserah diri pada kekuasaan Allah.

b. Kerajaan dan Kekuasaan

Perkataan dien juga mempunyai arti kerajaan (judicious power). Konsep ini sangat berkaitan dengan tauhid uluhiyyah yang merupakan perkara paling penting dalam aqidah Muslim. Seseorang itu tidak diterima imannya dengan hanya percaya kepada Allah sebagai Rabb akan tetapi ia hendaklah iman kepada Allah sebagai Ilah. Ini bermakna Allah adalah satu-satunya tuhan yang disembah, ditaati, Dialah penguasa dan Raja.

ما تعبدون من دونه إلا أسماء سميتموها أنتم وآبآؤكم ما أنزل الله بها من سلطان إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لا يعلمون

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Qs: Yusuf:40)mk

قل يا أيها الناس إن كنتم في شك من ديني فلا أعبد الذين تعبدون من دون الله ولكن أعبد الله الذي يتوفاكم وأمرت أن أكون من المؤمنين

Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman”,

Tauhid uluhiyyah ini yang membedakan musyrikin dengan mu’minin. Dari sinilah lahirnya Istilah al-hakimiyyah dimana seoarang muslim harus menerima Syari’at Allah dan tidak boleh tunduk kepada undang-undang buatan manusia. Kerana Allah Yang maha bijaksana dan maha mengetahui telah menetapkan hukum syari’ah yang sesuai untuk manusia untuk ditegakkan dan dipatuhi.

c. Tunduk dan Patuh/Taat

الله الذي جعل لكم الأرض قرارا والسماء بناء وصوركم فأحسن صوركم ورزقكم من الطيبات ذلكم الله ربكم فتبارك الله رب العالمين(64) هو الحي لا إله إلا هو فادعوه مخلصين له الدين الحمد لله رب العالمين(65)

“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”. (Q.S. Al-Mukmin [40]:64-65)mk.

Kedua ayat tersebut menjelaskan, bahwa Ad-Din hanyalah milik Allah semata yaitu kekuasan mutlak (absolute) untuk menciptakan langit, bumi dan seisinya. Atas kekuasaan-Nya pula Allah mengharuskan manusia untuk tunduk dan mentaati segala perintah-Nya. Dalam ayat lain disebutkan

أفغير دين الله يبغون وله أسلم من في السماوات والأرض طوعا وكرها وإليه يرجعون.

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”. (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 83)md.

Dalam ayat ini jelas Allah menegaskan, bahwa kekuasaan-Nya bersifat mutlak harus dipatuhi dan ditaati oleh semua seluruh makhluq-Nya, baik sukarela maupun terpaksa. Ayat ini menunjukkan bahwa Ad-Din hanyalah milik Allah semata, diakui atau tidak oleh makhluq Ad-Din berlaku mutlak.

d. Pertanggung Jawaban

Telah dijelaskan diatas bahwa kata Daana bisa menjadi Dain yang bermakna hutang. Dalam hal ini ia berkaitan erat dengan perwujudan manusia yang merupakan suatu hutang yang perlu dibayar(lihat surah al-Baqarah:245), manusia yang berasal dari tiada kemudian dicipta dan dihidupkan lalu diberi berbagai nikmat yang tak terhingga.

Sebagai peminjam manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa, akan tetapi Pemilik sebenarnya adalah Allah S.W.T manusia hanyalah diamanahi untuk dipergunakan dalam ibadah. Oleh kerana tidak memiliki apa-apa, manusia tidak dapat membayar hutangnya maka satu-satunya jalan untuk membalas budi adalah dengan beribadah, dan menjadi hamba Allah yang mana adalah tujuan daripada penciptaan manusia(al-Dhariyat:56) dan selanjutnya hutangpun harus dipertanggungjawabkan

إنما توعدون لصادق(5) وإن الدين لواقع(6)

“Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi”. (Q.S. Adz Dzaariyat [51]: 51-56)mk.

Ayat ini menjelaskan kepada manusia kepada manusia bahwa semua yang dilakukan manusia baik/buruk, salah/benar akan mendapatkan pembalasan.

وما أدراك ما يوم الدين(17) ثم ما أدراك ما يوم الدين(18)يوم لا تملك نفس لنفس شيئا والأمر يومئذ لله(19)

“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah”. (Q.S. Al-Infithar [82]: 17-19)mk.

Makna Ad-Din diatas menginformasikan kapada kita bahwa hari Pembalasan sangatlah adil. Pada hari itu manusia tidak bisa untuk menolong dirinya sendiri, hanya amal masing-masing yang menentukan dirinya, yaitu mendapatkan kebahagiaan disisi Allah atau akan mendapatkan kesengsaraan.

e. Fitrah untuk Menyempurnakan Tatanan Hidup

Pengertian yang lain ialah kecendrungan (inclination). Sudah menjadi fitrah manusia diciptakan mempunyai kecendrungan untuk percaya kepada perkara yang supernatural, percaya adanya tuhan yang mengatur alam semesta dan kuasa ghaib tidak bisa apa yang dicerna oleh indera manusia. Inilah yang dinamakan dienul fitrah

فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لا يعلمون

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (al-Rum:30)

Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia dan setiap bayi tang lahir sebagai seorang Muslim. Disamping itu sudah menjadi fitrah, manusia dijadikan oleh Allah sebagai makhluq sosial yang membutuhkan orang lain dalam pemenuhan kebutuhannya. Maka mau tidak mau manusia harus berkerjasama didalam menata kehidupannya

Kata dana juga berubah menjadi Maddana, dari kata ini lahirlah istilah madinah dan madani, maddana yang bermakna membangun dan bermasyarakat, oleh karena itu madinah dan madani hanya boleh digunakan untuk masyarakat yang beragama dan bukan sekuler. Dari pengertian ini juga kita lihat bahwa hal ini berkaitan erat dengan konsep khilafah dimana manusia telah diamanahkan oleh Allah sebagai khalifahNya di muka bumi untuk memakmurkan bumi dan membangun kedamaian dalam bermasyarakat yang sesuai dengan keinginan Allah

وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم أمنا يعبدونني لا يشركون بي شيئا ومن كفر بعد ذلك فأولئك هم الفاسقون

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (an-Nur:55)

Kesimpulan

Dari beberapa definisi / maksud agama menurut Islam seperti yang telah diterangkan diatas, maka jelaslah agama menurut sudut pandangan Islam sangat berbeda dengan persepsi Barat, agama dalam Islam adalah cara hidup, cara berfikir, berideologi, dan bertindak. Agama meliputi sistem-sistem politik, ekonomi, sosial, undang-undang dan ketata-negaraan.

Agama berperan dalam membentuk pribadi insan kamil disamping juga membentuk masyarakat yang ideal, agama menitik beratkan pembentukan moral dan spiritual sesebuah masyarakat tetapi tidak lupa juga membangun masyarakat dan membina pemerintahan yang kukuh dan berwibawa dimata dunia. Inilah yang dinamakan agama menurut Islam, jadi apa yang dianggap agama oleh barat adalah bukan agama (tidak lengkap) menurut Islam, ataupun Islam bukan hanya sekadar agama dalam pengertian Barat yang sempit.

Kelima makna Ad-Din bila dirangkai dalam suatu kalimat akan berbunyi sebagai berikut :

Ad-Din adalah undang-undang atau peraturan penguasa alam semesta untuk digunakan sebagai pedoman hidup yang ditaati, dipatuhi, dan dimintai pertanggung jawaban; kebaikan dibalas baik, keburukan dibalas buruk pula. Dengan definisi ini Ad-Din mencakup segala aspek kehidupan yang mencakup masalah duniawi dan ukhrawi.

Para ulama mendefinisikan Ad-Din sebagai sesuatu yang mampu mengatur segala kehidupan di dunia dan akhirat secara lengkap dan menyeluruh.

D. Daftar Bacaan

· Al-Qur’an dan terjemahannya, Depag RI

· Madjrie, Abdurrahman, Meluruskan Aqidah, (Tim KB Pres: 2003) cet 1.

· Munawwir, Ahmad Warson, Kamus Al-Munawwir, (Yogyakarta: Pustaka Progresiff: 1984).

· Muhammad, Abi Ja’far (224-310 H), Ath Thabari, Tafsir Ath Thabari, (Beirut: 2001). Jilid V.

· Al-Quraisyi, Ismail bin Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Beirut: Resalah Puliser, 2001.

· Bakie, Muhammad Fuad Abdul, Nu’jamul Mufahras li Afadhil Qur’an, Beirut: Dar El Marefah. 2005.

· Asy-Syarafa, Ismail, Ensiklopedi Filsafat. Jakarta: Khalifa.2002

demi kebaikan besama saya mohon pembaca mau membenarkan atau mengoreksi tulisan saya.


[1] Madjrie Abdurrahman, Meluruskan Aqidah, (Tim KB Press: 2003)cet I, hal 9

[2] Abi Ja’far Muhammad (224-310), Ath Thabari, Tafsir Ath Thabari. Jilid V, hal 281.

~ by fahdamjad on June 9, 2007.

20 Responses to “Ad-Dien / Agama Menurut Qur’an”

  1. jika kemudian kita mengkaji ulang pemahaman masyarakat agama atau the religious society mengenai konsep Ad-din mereka, sepertinya akan menarik untuk meninjaunya lebih jauh dengan Pak Samsul dan Sosiologi Agamanya, tidak banyak yang mampu saya paparkan mengenai konsep agama tapi setidaknya sedikit yang ingin saya ikut torehkan disini, ialah bahwa.. konsep agama seharusnya mampu untuk menjadi way of life, sekaligus way of thingking. agar dengan begitu kemudian konsep agama tidak hanya sebuah konsep belaka, melainkan mampu berkembang dan menjadi satu hal yang vested interest, di wujudkan dan mampu menjadi sebuah kunci keselamatan untuk pemeluknya. right!?

  2. wah huebat sekali komentar anda walau singkat, setidaknya memberi tahu saya bahwa saya harus belajar banyak dari anda. trimakasih buanyak lho yo atas comentnya

  3. sama2… he.. btw.. di tunggu nih artikel baru dari abi fat.. yang saya perhatikan banyak artikel yang segar di blog ka fatah, sukses yah!

  4. Artikel ini sangat menarik:

    http://komunitas-nuun.blogspot.com/2006/12/agama-islam.html

  5. salut buat anda…

  6. Ad-dien memang bukan “a-gama/religi/religare” sebagaimana pandangan pemikir Barat-sebagai salah satu unsur kebudayaan manusia. Ad-dien= peraturan dari sang ALLAH(jadi bukan ciptaan manusia) dalam menyusun peradaban(tamaddun),seluruh segi hidup man sosial, politik,IPTEKdsb.. jadi “ISLAM” tidak bisa di sandingkan dengan kata “agama”, kalimat “Agama Islam” itu bukan hanya salah dari sudut akar kata, namun juga patal imlikasinya (Islam termasuk “Kebudayaan”/hasil cipta karya manusia)..
    ok terima kasih!
    “Allahu Akbar..! “Tuhannya Ibrahim, musa, Isa wa Muhammad Bukan Tuhannya Parra Filooosooooof!”

  7. sepakat….

  8. alhamdulilah..pandangan bernas dan padat.
    semoga saudara dirahmati Allah kerana berkongsi ilmu

  9. Haii All,

    I’m newbie here and come here from search engine. I really think this forum was great.

    Would you mind to check my blog below ?

    Natural Health Care

  10. http://vedasastra.wordpress.com/2009/12/14/manu-dan-adam-keturunan-manakah-kita-secara-ilmiah/

  11. alhamdulillah ternyata masih ada dan banyak yang memiliki pemahaman cerdas tentang dienul islam. semoga semakin bertambah jumlah umat yang berani mengatakan “saya muslim” tanpa embel2 menggunakan istilah agama. barokallahu lii walakum

  12. cute! thank you.

    you can also read it in my car blog

  13. sangat bagus sekali… terima kasih…

  14. itulah arti dien yg sebenarnya semoga umat islam tdk salah lg dlm m,artikan dien dgn benar

  15. Nice work, Keep doing it!!! ;)

  16. Assalamualaikum ya akhi, sukron artikel ini bermanfaat, yup, agar kita tidak terlalu sempit mengartikan makna Ad-din hanya sebatas agama, karena agama sendiri secara bahasa (berasal dari bahasa sansekerta) artinya “a” –> tidak “gama” –> kacau, padahal makna ad-din itu luas, ketaatan, balasan, undang-undang. klw saya boleh menyimpulkan ternyata ad-din diIndonesia ini sangat banyak, karena sebuah sistem yang mempunyai aturan/undang-undang yang membuat kita taat, yang dengan ketaatan itu atau pembangkangan ketaatan itu kita mendapat balasan. dan jika kita bukan taat, bukan menggunakan uu, bukan mendapatkan balasan, kepada dan dari ALLAH, berarti kita bukan berada pada dinullah , naudzubillah min dzalik, sekarang banyak aturan,uu yang bukan dari ALLAH, nah sekarang ada di din mana kita Islam atau yang lainnya. wallahu ‘alam

  17. Assalamualaikum ya akhi, sukron artikel ini bermanfaat, yup, agar kita tidak terlalu sempit mengartikan makna Ad-din hanya sebatas agama, karena agama sendiri secara bahasa (berasal dari bahasa sansekerta) artinya “a” –> tidak “gama” –> kacau, padahal makna ad-din itu luas, ketaatan, balasan, undang-undang. klw saya boleh menyimpulkan ternyata ad-din diIndonesia ini sangat banyak, karena sebuah sistem yang mempunyai aturan/undang-undang yang membuat kita taat, yang dengan ketaatan itu atau pembangkangan ketaatan itu kita mendapat balasan. dan jika kita bukan taat, bukan menggunakan uu, bukan mendapatkan balasan, kepada dan dari ALLAH, berarti kita bukan berada pada dinullah , naudzubillah min dzalik, sekarang banyak aturan,uu yang bukan dari ALLAH, nah sekarang ada di din mana kita Islam atau yang lainnya. wallahu ‘alam

  18. I LIKE IT,,,,

  19. الدِّيْنُ هُوَ مَاوَضَعَهُ اللهُ فِي كِتَابِهِ الحَكِيْمِ وَ سُنَّةِ نَبِيِّهِ الصَّحِيْحَةِ مِنَ الاَوَامِرَ وَالنَّوَاهِى وَالإِرْشَادَاتِ لِمَصْلِحَةِ البَشَرِ دُنْيَاهُمْ وَ أُخْرَاهُمْ
    “Agama ialah Apa-apa yang telah ditentukan Allah dalam kitabNya yang bijaksana dan Sunnah Nabi-Nya yang shahih, baik berupa perintah, larangan, maupun petunjuk untuk kemashlahatan manusia di dunia dan akhirat” (Kitab Al-Hidayah [1] : 1)

  20. QS. Ali Imran:19 di atas, din yg dimaksud adlh agama Islam. bukan kepatuhan atau ketundukan. dan semua din yang bermakna agama di dalam al Qur’an, orientasinya adl Islam. berbeda dengan millah dan syariat. bisa di lihat di mu’jam mufrodat lialfadlil qur’an, raghib al isfahani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: