Opini

 

 

Al-qur’an Pedoman

atau Mantera Penebus Dosa

Oleh : Abu Fariq

Al Qur’an ialah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang bernilai mu’jizat, diturunkannya melalui perantara Malikat Jibril as. Yang ditulis pada mushaf-mushaf, suatu ibadah bagi Muslim yang mempelajarinya, diriwayatkan kepada kita secara mutawattir (sempurna, pen) diawali dengan surah Al Fatihah dan diakhiri dengan surah An Naas,[1]sebagai petunjuk bagi manusia.

Dari definisi diatas secara praktis Al Qur’an adalah “Wahyu Allah yang diterima oleh Nabi Muhmmad saw. Yang di interpretasikan dalam kehidupan beliau sehari-hari (dalam fungsional beliau sebagai rasul), berfungsi sebagai contoh dan petunjuk bagi umat Islam.

Dewasa ini Al Qur’an yang dalam kedudukannya sebagai pedoman hidup bagi umat Islam ternyata semakin lama semakin jauh ditinggalkan oleh umat Islam. 1400 tahun yang lalu Allah SWT telah menginformasikan kepada kita, bahwa Al Qur’an lah satu-satunya petunjuk hidup yang paling benar:

 

إن هذا القرآن يهدي للتي هي أقوم ويبشر المؤمنين الذين يعملون الصالحات أن لهم أجرا كبيرا

Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,.” (Al Isra’ : 9).

Dari ayat diatas jelas bahwa Al Qur’an adalah satu-satunya peta yang menunjukkan pada manusia sebuah tujuan yang mempunyai prioritas utama dalam konteks keselamatan hidup di dunia maupun akhirat.

Seiring berjalannya waktu, setelah kurang lebih 1400 tahun ummat Islam berpisah dengan The living Quran Muhammad Rasulullah SAW, seakan-akan mulai pudar huruf-huruf yang merangkai kata demi kata dalam Al Qur’an, semakin berkurang fungsi dan kedudukannya sebagai kitab pedoman, dan bukan lagi menjadi prioritas utama dalam kehidupan ummat.

Orang-orang yang notabene disebut Muslim, tidak jarang kita temui mereka tidak mampu membaca Al Qur’an apa lagi memahaminya. Realita ini secara tidak langsung menjelaskan pada kita bahwa umat Islam telah asing dengan Al Qur’an.

Fenomena di atas telah dikeluhkan oleh Rosulullah dan dinyatakan dalam Al Qur’an 1400 tahun yang lalu ;

وقال الرسول يا رب إن قومي اتخذوا هذا القرآن مهجورا

“Dan berkatalah Rasul ; ‘Wahai Tuhanku! sesungguhnya kaumku telah meninggalkan Al-quran.’” (Al Furqon : 30).

Pada ayat di atas, Al Qur’an memberitakan kepada kita tentang kesedihan Rasulullah yang diadukan kepada Allah SWT, karena kebodohan dan kedzaliman umatnya — diantaranya adalah kita — yang telah meninggalkan Al Qur’an. Dan inilah fenomena yang terjadi pada masa sekarang.

Di Indonesia tercatat + ­80% penduduknya adalah pemeluk agama Islam. Sewajarnya dengan jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam tersebut dapat meningkatkan intensitas membaca Al Qur’an dan mengamalkannya dengan baik dalam keseharian. Namun, intensitas membaca Al Qur’an ini juga belum diyakini dapat memenuhi kebutuhan tersebut di atas. Kontinuitas membaca Al Qur’an yang sering dilakukan terkadang hanya sebagai symbol ataupun pemenuhan kewajiban belaka tanpa dikaji lebih dalam apa hikmah yang dapat diambil darinya.

Kita semua tahu definisi membaca adalah memindahkan makna tulisan kedalam otak atau pemahaman kita, seperti halnya setelah kita membaca surat kabar hari ini, kita bisa menceritakan ulang tentang sesuatu yang diberitakan didalam surat kabar tersebut pada orang lain. Lalu bagaimana dengan Al-qur’an? Sudahkah kita fahami maknanya ketika kita membacanya? Kalau belum bagaimana Al-qur’an bisa menjadi PEDOMAN hidup kita? Dan bagaimana kita tahu bahwa kita benar, sedangkan kita tdak memahami perintah-Nya? Ini menjadi PR buat kita sebagai MUSLIM.


[1] Asshahbuni, Ali, At-Tibyan fi Ulumil Qur’an. Hal 18


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: