Tafsir Maudlu’i

J I H A D

Oleh: Arista Darmawan, S.Ag

Jihad merupakan suatu kata yang sangat akrab didengar oleh telinga kita dan lidah kitapun sudah sangat fasih untuk mengucapkan kata tersebut, padahal sering kita tidak mampu untuk menjelaskan mengenai jihad itu sendiri dalam arti yang sebenarnya. Dalam benak pemikiran kita, ketika disebut kata jihad, maka sering dari kita, secara otomatis, mengidentikkan dengan perang melawan musuh. Tetapi benarkah pemahaman kita tentang jihad seperti ini ?. Pengartian atau pemaknaan jihad yang tidak tepat pada akhirnya akan berakibat menurunkan makna (moral) sebenarnya dari jihad itu sendiri.

Secara bahasa (etimologi) ia berasal dari kata “juhd” atau “jahd”. Arti letterlux-nya adalah kesungguhan, kemampuan maksimal, kepayahan dan usaha yang sangat melelahkan. Dari kata ini juga terbentuk kosa-kata “ijtihad”. Tetapi yang terakhir ini lebih mengarah pada upaya dan aktifitas intelektual yang serius dan melelahkan. Dalam terminologi sufisme juga dikenal istilah “mujahadah”, sebuah usaha spritual yang intens, bahkan mungkin sampai pada tingkat ekstase. Orang yang berjuang di jalan Allah dengan sungguh-sungguh disebut mujahid atau mujahidin untuk orang banyak.[1]

Penggunaan Kata Jihad dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menyebut kata jihad dalam sejumlah ayat. Kurang lebih 41 ayat yang tersebar dalam Mushaf al-Qur’an.

Jumlah Ayat

Madaniyah

Makiyah

Pola Ayat

2 Ayat

2 Ayat

جَا هَدَ

2 Ayat

2 Ayat

جَا هِدِ

2 Ayat

1 Ayat

1 Ayat

جَا هَدَاكَ

1 Ayat

1 Ayat

جَا هِدهُم

11 Ayat

9 Ayat

2 Ayat

جَا هَدُوا

4 Ayat

4 Ayat

جَا هِدُوا

1 Ayat

1 Ayat

جِهَادٍ

2 Ayat

1 Ayat

1 Ayat

جِهَادًا

1 Ayat

1 Ayat

جِهَا دِهِ

5 Ayat

2 Ayat

3 Ayat

جَهدَ

1 Ayat

1 Ayat

جُهدَهُم

1 Ayat

1 Ayat

المُجَا هِدُون

3 Ayat

3 Ayat

المُجَا هِدِينَ

1 Ayat

1 Ayat

يُجَا هِدُ

2 Ayat

2 Ayat

يُجَا هِدُوا

1 Ayat

1 Ayat

يُجَا هِدُون

1 Ayat

1 Ayat

تُجَا هِدٌون

41 Ayat

33 Ayat

8 Ayat

Total

  1. Jihad dan Qital

Melihat hal ini, pemaknaan jihad dengan perang tampaknya tidak lepas dari latar belakang sejarah perkembangan Islam sendiri. Ia muncul ketika Islam bergerak ke arena pergulatan politik dalam komunitas muslim dan non-muslim. Akan tetapi jihad perang pada masa Nabi di Madinah lebih dilakukan dalam kerangka membela diri dari agresi dan kekerasan. Dalam banyak ayat, perang bukanlah inisiatif Islam. Al-Qur’an melarang kaum muslimin memerangi orang-orang yang tidak melakukan penyerangan atau pengusiran.

Al Quran selain menggunakan kata jihad, juga mempergunakan kata “qital” untuk menunjukkan dan sekaligus membedakan arti yang lebih spesifik dari jihad perang dengan jihad yang lain. Qital berasal dari kata “qatala” yang berarti “memerangi atau membunuh”, makna qatala ini mengacu pada perjuangan dengan mengangkat senjata untuk memerangi musuh yang mengancam eksistensi ummat Islam. Qital merupakan bagian dari jihad, sehingga sering digunakan kata “jihad qital” untuk menunjukkan perjuangan mengangkat senjata itu sendiri. Jihad qital banyak sekali dilakukan oleh Nabi Muhammad dan juga para sahabat beliau dalam rangka mempertahankan eksistensi agama dan ummat Islam.

Al Quran, dalam ayat-ayat Makiyah, perkataan jihad atau al-jihad lebih menunjukkan kepada makna-makna `am (umum) dari amar ma`ruuf dan nahi munkar. Ayat Makiyah ini dapat dijumpai di surat Al Ankabut 6 :

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya untuk dirinya sendiri (berakibat kemaslahatan baginya)” (QS A1-Ankabut [29]: 6).

Dan Al Ankabut 69 :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad dijalan Kami, sungguh Kami benar-benar akan menunjukkan mereka pada jalan jalan Kami.” (QS A1-Ankabut [29]: 6).

Sedang dalam ayat-ayat Madaniyah, akan kita jumpai makna kata jihad yang lebih spesifik ke arah jihad qital yaitu memerangi musuh. Ayat-ayat ini bisa dijumpai pada At Taubah ayat 41 :

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu dijalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. “ , (At Taubah ayat 41)

Al-Imran 142 :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar”. (Al-Imran 142).

Meski ayat-ayat Madaniyah lebih spesifik kepada makna jihad qital, tetapi kerangka jihad yang dipakai itu sendiri tidak lepas dari prinsip dasar makna jihad yang lebih luas yaitu amar ma`ruf dan nahi munkar.

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu orang lain mengusirmu”.(QS. Al-Mumtahanah, 9).

Sebaliknya terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu, al-Qur’an menganjurkan untuk berlaku baik dan adil. “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu.

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah, 8).

  1. Jihad terhadap Orang Munafik dan Orang Kafir

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Wahai Nabi berjuanglah (jahid, yang berasal dari kata jihad) melawan kaum kafir dan kaum munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Dan tempat tinggal mereka adalah jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya…….(QS. 9:73 dan 66:9).

Ayat ini memerintahkan Rasulullah SAW untuk berjuang melawan kaum kafir dan kaum munafik sekaligus. (Kaum munafik adalah kaum yang pada lahiriyahnya Muslim dan hidup ditengah-tengah kaum Muslimin dan diperlakukan sebagai orang Islam dalam segala hal. Mereka juga pergi ke Masjid dan menjalankan shalat bersama-sama kaum Muslimin lainnya. Mereka juga membayar zakat, malahan kadang-kadang mereka juga ikut bertempur bersama-sama kaum Muslimin lainnya melawan kaum kafir). Memerangi mereka secara perang fisik adalah tak mungkin sama sekali dan perang fisik terhadap mereka memang tak pernah dilakukan.

Tetapi ini tidak berarti bahwa hanya kedua objek itu yang harus dihadapi dengan jihad, karena dalam ayat-ayat lain disebutkan musuh-musuh yang dapat menjerumuskan manusia kedalam kejahatan, yaitu setan dan nafsu manusia sendiri. Keduanya pun harus dihadapi dengan perjuangan.[2]

  1. Jihad Rohani

Sementara itu, jihad dalam pengertian perjuangan moral dan spiritual, jihad tanpa kekerasan dan bersenjata telah dengan sangat jelas dikemukakan dalam banyak ayat al-Qur’an. Perjuangan moral dan spiritual adalah perjuangan menegakkan keadilan, kebenaran dan kesalehan. Semua tema ini terangkum dalam istilah yang sangat populer dan menjadi inti keseluruhan perjuangan dalam kehidupan orang-orang beriman; “amar ma’ruf nahi munkar”. Perintah al-Qur’an mengenai ini tidak dibatasi hanya terhadap laki-laki, tetapi juga perempuan. Meskipun pandangan-pandangan konservatif telah membatasi perjuangan kaum perempuan hanya dalam ruang sempit bernama keluarga, tetapi pandangan Tauhid, paradigma kesetaraan manusia dan keadilan, memberikan peluang kepada kaum perempuan untuk berjihad dalam ruang-ruang sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan. Jihad membangun kebersamaan dan tanpa diskriminasi, menegakkan keadilan dan menghapuskan segala bentuk kezaliman, serta mewujudkan kesalehan budaya dan membatasi keserakahan nafsu, harus menjadi cara-cara kehidupan manusia ke depan. Inilah makna jihad akbar sekaligus sebuah bentuk kerahmatan semesta yang menjadi cita-cita Islam.

Jihad juga mengandung arti “kemampuan” yang menuntut sang mujahid mengeluarkan segala daya dan kemampuannya demi mencapai tujuan. Karena itu jihad adalah pengorbanan, dan dengan demikian sang mujahid tidak menuntut atau mengambil tetapi memberi semua yang dimilikinya. Ketika memberi, dia tidak berhenti sebelum tujuannya tercapai atau yang dimilikinya habis.[3]

“Dan sungguh pasti kami akan memberi cobaan kepada kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar” (QS Al-Baqarah [2]:155).

Jihad dan sabar bukanlah dua buah sikap yang bertentangan tetapi adalah dua buah sikap yang saling menunjang dimana untuk jihad itu diperlukan kesabaran. Dua buah ayat Makiyah lainnya bisa dijadikan sebagai argumentasi bahwa jihad itu bukanlah semacam perang fisik yang ditujukan buat orang-orang kafir. Dalam surat Al-Hajj ayat 78 dapat kita baca sbb:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

“Dan berjuanglah (jahidu) untuk kepentingan Allah dengan perjuangan (jihad) karena dia semata-mata….(QS. 22:78).

Masih pada surat Makiyah:

فَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

“Maka janganlah engkau menuruti kaum kafir, dan berjuanglah (jahid) dengan ini melawan mereka dengan perjuangan (jihadan) yang hebat…(QS. 25:52).

Pada ayat ini yang dituju oleh dlamir (kata ganti) “bihi” (dengan ini) ialah Qur’an Suci sebagaimana ditunjukkan oleh hubungan ayat ini dan ayat sebelum dan sesudahnya.

Dalam dua ayat tersebut (QS. 22:78 dan 25:52), terang sekali bahwa kaum Muslimin diperintahkan untuk berjihad yang pada ayat pertama dimana jihad tersebut dilakukan demi mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan pada ayat kedua jihad tersebut diarahkan kepada kaum kafir. Kedua-dua jihad tersebut bukanlah semacam perang fisik, dengan mempergunakan “pedang”, tetapi semacam jihad rohani “watawa saubil haqqi” dengan mempergunakan Al-Qur’an. Oleh karena itu perjuangan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk menundukkan hawa nafsu serta untuk mengalahkan kaum kafir bukanlah dengan menggunakan pedang melainkan dengan Al-Qur’an.

  1. Jihad dalam Kehidupan

Jihad disini mempunyai pengertian yang sama artinya dengan jihad yang dipakai pada ayat-ayat Makiyah yaitu jihad dengan mempergunakan Qur’an Suci, sebagaimana juga dijelaskan oleh surat Al-Furqaan ayat 52. Dalam wahyu Madaniyah yang lainpun kata-kata “jihad” digunakan dalam arti yang sangat luas dan tidak terbatas dalam pengertian “perang fisik” saja tetapi meliputi arti yang umum yakni “berjuang” yang mencakup perang rohani maupun pertempuran fisik. Qur’an berfirman sbb:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang hijrah dan berjuang (jahadu) dijalan Allah, mereka mengharapkan rahmat Allah”…….(QS. 2:218 dan 8:74).

Jihad dalam kedua ayat ini bisa diterapkan kepada orang-orang yang bertempur secara fisik, tetapi dapat pula diterapkan kepada orang-orang yang berjuang membasmi kekafiran dan kejahatan secara perjuangan rohani.

Dalam wahyu Madaniyah yang lain lagi diuraikan pula tentang kata “shabirin” (orang-orang yang sabar) berdampingan dengan kata “mujahidun” (orang-orang yang berjuang) dalam satu ayat sebagaimana kata-kata itu diuraikan dalam wahyu Makiyah.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk sorga, padahal Allah belum melihat bukti, siapa diantara kamu yang berjuang (jahadu) dan belum melihat pula orang yang sabar.”…….(QS. 3:142).

Dalam berapa Hadistpun diterangkan makna dari kata “jihad”, tetapi tidak satupun Hadist tersebut yang mengartikan perkataan tersebut dengan arti yang yang sempit dan khusus “perang fisik”. Misalnya dalam Hadits berikut ini dikatakan:

عن أبي هريرة, قا ل : رسول الله ص.م.: أيّ الاعما ل أفضل؟ قا ل: ( إيمان با الله ورسولهِ) قيل: ثم ماذا؟ قا ل: ( ألجهادفي سبيلِِِِ الله) قيل: ثم ماذا؟ قا ل: ( حجُّ مبرورٌ). متفق عليه.

“Rasulullah SAW bersabda: “Ibadah Hajji adalah jihad yang paling mulia”…..(Bukhari).[4]

Jihad merupakan aktivitas yang unik, menyeluruh, dan tidak dapat dipersamakan dengan aktivitas lain –sekalipun aktivitas keagamaan. Tidak ada satu amalan keagamaan yang tidak disertai dengan jihad. Paling tidak, jihad diperlukan untuk menghambat rayuan nafsu yang selalu mengajak pada kedurhakaan dan pengabaian tuntunan agama.[5] Karena itu, seorang Mukmin pastilah mujahid, dan tidak perlu menunggu izin atau restu untuk melakukannya. Ini berbeda dengan orang munafik. Al-Quran menegaskan,

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya untuk dirinya sendiri (berakibat kemaslahatan baginya)” (QS A1-Ankabut [29]: 6).

Kesimpulan

Jihad merupakan suatu ajaran yang pokok dari Islam dalam rangka untuk mempraktekkan prinsip amar ma`ruf dan nahii munkar guna menjadikan fungsi khalifah dari manusia menjadi realita. Jihad mendapat perhatian penting dalam Islam, sehingga Allah-pun menjanjikan balasan yang besar kepada orang-orang yang berjihad di jalan-Nya,

Jadi, pengartian jihad sangatlah kondisional dimana pemahaman substansi dari jihad (atau lebih lagi dalam usaha pengartian jihad yang paling baik) tidaklah terlepas dari usaha-usaha ijtihad manusia dalam membaca kondisi dan mendialogkan antara wahyu Al Quran dan kehidupan nyata ini.

  1. Daftar Pustaka

1. Al-Qur’an Al-Karim

2. Munawwir, A.W. Kamus Al Munawwir Arab-Indonesia, cetakan ke-25 (Surabaya: Pustaka Progresif), 2002

3. Shihab, M. Quraish, WAWASAN AL-QURAN Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat,( Bandung: Penerbit Mizan), 1999.

4. Muhammad, Husein, rahima2000@cbn.net.id. 2003.

5. Nawawi, Imam, ريا ض الصا لحين, Jami’ Manshur Asy Sya’ibi bi Jarrah. 2002

6. Bakie, Muhammad Fuad Abdul, Nu’jamul Mufahras li Afadhil Qur’an, Beirut: Dar El Marefah. 2005.


[1] A.W. Munawwir, Kamus Al Munawwir Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif), hal 217.

[2] Dr. M. Quraish Shihab, M.A., WAWASAN AL-QURAN Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat,( Bandung: Penerbit Mizan) hal

[3] Ibid, hal 4

[4] Imam Nawawi, ريا ض الصا لحين, Jami’ Manshur Asy Sya’ibi bi Jarrah. Hal 452 hadits ke 1285.

[5] Ibid, hal 4


One Response to “Tafsir Maudlu’i”

  1. ka, coba tambahin fakta-fakta di lapangan tentang berbagai macam tafsiran jihad saat ni, yang di palestin boleh juga tuh di paparkan.. oy, di bulughul maram or subulus salam juga ada bab yang membahas tentang jihad berikut ganjarannya bisa untuk sedikit referensi tambahan. artikelnya bagus ka! smoga tambah rajin aja nih nulisnya… he.. I may have no ability for make an article like yours, the other side of my soul just command me to do the other different things.. the other different article..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: