Tasawwuf

Wajah-wajah syetan di sekeliling kita[1]

مقدمة

ragam pesona penghuni alam semesta[2]

Hanya karena sifat Rohman dan RohimNya lah maka Allah swt berkenan mewarnai alam semesta ini dengan aneka ragam makhluk ciptaanNya yang sempurna dan indah tiada banding, dari mereka ada yang diproduk sebagai makhluk hidup ( حيوان) dan ada pula makhluk cipataanNya yang diformat tanpa nyawa ( غير حيوان ) , baik berupa tumbuh-tumbuhan, bebatuan, tanah dan benda-benda mati lainnya.

Adapun makhluk yang bernyawa terbagi menjadi dua bagian :

a. Ghoiru Mukallaf : Makhluk hidup yang tidak diwajibkan untuk mengabdikan dirinya kepada Allah. Yang termasuk kategori ini antara lain adalah semua jenis binatang, orang gila ( termasuk yang terbelakang mentalnya ) atau pun anak-anak yang belum dewasa.

b. Mukallaf : Makhluk hidup yang mendapatkan instruksi dari Allah untuk mengabdi kepada Allah, dengan konsekwensi adanya penghargaan pahala ( syurga ) atas loyalitas dan dedikasinya sebagai kawula terbaikNya, Namun Dia juga mencanangkan ancaman sanksi laknat dan adzab atas segala pelanggaran, penyimpangan dan pembangkangannya.

Makhluk mukallaf ini terdiri dari tiga komponen, yakni bangsa malaikat, bangsa manusia dan bangsa jin. Dan dari ketiga makhluk ini hanya malaikat lah yang sepanjang hayatnya ikhlas mengabdikan dirinya kepada Allah, mereka mentaati Allah tanpa pamrih apa pun selain ridhoNya, tiada rasa jenuh, tiada rasa capek, tiada rasa malas! Apa pun yang diperintahkan oleh Sang pencipta, pasti selalu mereka laksanakan dengan selalu bersujud ( rendah hati ) sebagaimana penggambaran Allah berikut iniLengkap: [3]

ولله يسجد ما في السموات وما في الارض من دآبة والملائكة وهم لا يستكبرون*

يخافون ربهم من فوقهم ويفعلون ما يؤمرون

Dari informasi ayat tersebut, ternyata bukan hanya bangsa malaikat yang selalu ikhlas dan bangga bersujud mengagungkan dan mensucikan kebesaran dan keperkasaan Allah, Sang Maha pencipta, sebab benda-benda ( mati ), tumbuh-tumbuhan dan seluruh species binatang baik yang melata, merayap sampai yang beterbangan pun selalu mematuhi sunnatulloh ( garis kodrat yang dibentangkan oleh Allah Rabbul ‘alamin ). Hal itu tentu sangat berbeda jauh dengan manusia dan jin, diantara mereka ada yang beriman namun lebih banyak lagi mereka yang kafir. Bahkan kelompok yang beriman pun masih terpecah menjadi kelompok solihin ( orang baik-baik ) dan kelompok fasiqin ( orang-orang brengsek ). Dan dari kelompok manusia dan jin yang solih maupun yang brengsek masih dapat dipecah menjadi dua bagian yakni kelas idiot dan kelas cerdas, namun celakanya, seluruh kelompok mukallaf dari kalangan manusia dan jin justru lebih enjoy menikmati ke-idiot-annya, sehingga potensial menjadi pecundang yang diperdayai oleh bujuk-rayu hawa nafsunya dan selalu dipermainkan oleh si iblis laknat bagaikan sebuah bola yang ditendang ke sana kemari oleh para pemain, kecuali orang-orang yang dilindungi oleh Allah swt. ( Tetapi yang menjadi topik utama dalam tulisan ini hanya dibatasi pada sepak terjang manusia saja ).

Agar kita tidak menjadi budak nafsu yang sekedar men-takdirkan-nasibnya untuk menjadi sampah akhirat, maka kita harus mampu mengambil sikap yang lebih berhati-hati dan mawas diri dalam melangkah sehingga terlepas dari cengkeraman kebodohan nafsu dan iblis laknat. Untuk itulah penulis merasa tidak ada ruginya jika kita melegakan nafas untuk mencermati jurus-jurus dahsyat Imam Al Ghazali dalam mengupas tuntas tentang : Manusia-manusia syetan ( idiot ) dan sketsa wajah para pecundang ( budak hawa nafsu ), tetapi merasa sebagai the winner! ( calon penghuni syurga ), Tetapi mohon maaf saja, jika penulis menyajikannya dalam format yang sedikit beda dari naskah aslinya dan malah terkesan dramatis dengan background realitas seputar kita, agar resep Al ghozali dapat kita rasakan kemujarabannya, atau masuk dalam kategori Syifa’, Anfa’uhum linnas, dan Rohmatan lilmukminin.

Dan untuk memudahkan cek & ricek, maka pembaca dapat menelaah buku aslinya seperti yang tercantum dalam foot note! Semoga Allah meridhoinya, Amin !

Bagian Pertama:

Typical manusia-manusia[1]

a. Potret buram orang-orang kafir

Apakah anda pernah berfikir, bahwa semua orang kafir atau musyrik di seluruh muka bumi ini hanya layak diberi label sebagai ‘pecundang yang bodoh’? Kenapa musti demikian? Matrilah kita mencoba mencermati pola fikir dan gaya hidup mereka yang tidak lebih dari sekedar berburu kenikmatan dan kepuasan syahwatiah, atau dengan kata lain mereka cenderung materealistis ( hubbdu-dunia ), ditambah dengan sifat egoistis dan ambnisius hawa nafsunya yang selalu menggiring dan mendoktrin otaknya untuk menerima dan mengakui kebenaran dari hal-hal yang logis ( dapat diterima dan dibenarkan oleh otak udangnya ), mereka hanya akan mempercayai sesuatu kebenaran jika dapat dibuktikan secara empiris dan realistis.

Untuk apa mengakui sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris? Untuk apa harus susah-susah melakukan serangkaian aktivitas ( ibadah ) untuk mengejar kebahagiaan di suatu dimensi terakhir yang bernama AKHIRAT? Padahal sepanjang sejarah Iptek manusia belum pernah ada formula untuk membuktikan eksistensi akhirat dengan mata kepala!? Padahal kenikmatan dan kebahagiaan hidup di alam fana ini benar-benar sudah ada di depan mata! ‘n so what? Buat apa membuang-buang waktu untuk menguber-uber kebahagiaan akhirat yang abstrak?! Sedangkan untuk menggenggam kebahagiaan di alam nyata ( di dunia ) sekarang ini saja susahnya bukan main?! Atau jikalau benar kelak ada kehidupan akhirat, maka kebahagiaan di dunia ini jauh lebih penting, bukan? Jika kita punya kesempatan menikmati kehidupan yang menyenangkan saat ini, kenapa harus membodohi diri hingga menunggunya kelak di akhirat!? Atau bisa jadi, justru kita lah yang akan mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan abadi di akhirat sebagaimana kebahagiaan yang kita raup saat ini, bukan bagi orang-orang yang beriman yang mayoritas hidup dalam penderitaan….! Sebagaimana yang digambarkan oleh Allah dalam Alqur’an berikut ini:

وما اظن الساعة قائمة ولئن رددت إلى ربي لأجدن خيرا منها منقلبا

Aku tidak percaya kalau hari pembalasan ( qiyamat ) itu benar-benar ada! Dan seandainya hari itu terjadi, maka pasti aku lah yang akan mendapatkan kebahagiaan melebihi yang sekarang ini[2].

Logika semacam itulah yang tertanam lalu mengakar, tumbuh subur dan berkembang biak di otak orang-orang kafir sehingga mereka berani bersikap gegabah dan sangat arogan menampik seruan untuk beriman kepada Allah ataupun hari kebangkitan, mereka berfikir sepintas lalu dan hanya memandang sisi luarnya saja ( hanya menilik pada apa yang terlihat mata saja ), seperti ulah iblis laknatulloh yang menyombongkan diri di depan Allah! Bukankah logika dangkal si iblis telah menjebak dirinya untuk berasumsi bahwa dirinya lebih hebat dari pada Adam, karena menurut otaknya, bahwa anatomi bangsa iblis yang terbuat dari unsur dari api, adalah jauh lebih hebat dan kuat daripada asal usul Adam yang sekedar terbuat dari tanah liat. Mari kita simak dialog Allah dengan iblis kala itu:

قال ما منعك الا تسجد إذ امرتك؟ قال انا خير منه خلقتني من نار وخلقته من طين

Allah berfirman: Hei Iblis, apa alasanmu, sehingga kamu menolak perintahku agar kamu bersujud kepada adam? Maka iblis menjawab: Aku lebih baik daripada Adam, aku Engkau ciptakan dari api sedangkan Adam hanya Engkau ciptakan dari tanah.[3]

Jujur saja, sebenarnya bukan cuma orang kafir atau musyrik yang mempunyai pikiran sesat ( sombong ) ‘ala iblis laknat ini, kita yang merasa sebagai orang beriman pun kerap kali mengalami kondisi psychis yang tidak jauh berbeda dari mereka, sehingga seringkali kita melanggar laranganNya dan mengabaikan perintahNya! Bukankah dalam dasawarsa terakhir ini kita melihat kesibukan kaum buruh ( karyawan ) pabrik yang diperkosa keimanannya oleh sang majikan sehingga mereka seringkali dipaksa menghabiskan waktu malamnya di pabrik dengan iming-iming gaji ( uang lemburan ) beberapa kali lipat dari UMR!? Apalagi mayoritas pekerja pabrik yang harus begadang tiap malam itu adalah kaum perempuan yang secara sunnatulloh harus lebih banyak tinggal di rumah demi terciptanya kondisi sakinah, mawaddah warohmah dalam sebuah keluarga serta untuk mengurangi merebaknya fitnah, tetapi ironisnya lapangan kerja yang tersedia justeru dikhususkan untuk kaum hawa yang mudah diperkosa hak-haknya tanpa perlawanan, sehingga embrio syetan sudah tertanam subur dan akan lahir denagn cepat seiring dengan sifat rakus mereka akan harta, sedangkan untuk solat wajibnya saja mereka tidak sempat menjalankannya secara benar dan khusyu, apalagi solat-solat sunnah semacam solat dhuha, solat rowatib maupun solat malam sambil berdzikir sekian jam? Untuk apa? Tokh tidak ada untungnya, lebih baik kerja lembur yang hasilnya langsung dapat dinikmati setiap tanggal gajian, bukan!?

Itulah spirit-power of syetan dan strategi licik PKI ( pasukan koalisi iblis ) untuk menaklukkan dan melumat sisa-sisa laskar iman di qalbu manusia! Coba fikir, hanya dengan iming-iming tunjangan rupiah, ternyata telah menggiring manusia untuk merenda khayalan masa depan yang lebih cerah, jika mereka berani menolak pemaksaan jam kerja lembur hingga larut, tokh mereka butuh uang untuk membeayai mahalnya kepuasan hawa nafsunya, atau pasti akan ada kecemasan bakal terkena PHK jika tidak berdisiplin dan berani membangkang peraturan jam kerja lembur yang dibuat oleh sang majikan!? Hanya dengan segenggam rupiah di tangan, maka manusia sudah langsung takluk dan bertekuk lutut tanpa sayarat menjadi budak rupiah, mereka lebih ikhlas bersujud di hadapan rupiah daripada bersimpuh memohon ampunan dan ridho Allah! Jika kondisinya sedemikian runyamnya, pasti mereka akan mencari-cari alasan subjektif yang dianggapnya tepat dan lebih penting daripada ‘sekedar’ mentaati perintah dari Sang Pencipta yang Maha Agung.

Untuk menyelamatkan iman manusia yang sudah keracunan virus PKI sedemikian kritisnya, maka mereka harus menjalani therapy spiritual secara Istiqomah ( sabar, iskhlas dan rutin ) seperti berikut ini:

1. Menanamkan dan menumbuh kembangkan iman di dalam qalbu dan meyakini segala firman Allah yang memaparkan tentang hakekat hidup, yakni sebagai ‘hamba Allah’ dan bukan sebagai budak harta!

2. Meyakini ayat-ayat yang menginformasikan eksistensi akhirat yang kekal dan nisbinya segala kehidupan alam fana ini dengan konsekwansi logis, bahwa dirinya harus menambah bekal amal solih yang signifikan di sela-sela kesibukannya mencari nafkah yang memang perintah Agama.

3. Mengikuti petunjuk Rasulullah saw. dan meneladani pola hidup serta berbagai amalan ( aktivitas ) beliau lainnya yang dapat menjadi penyejuk qalbu dan pemicu semangat berkompetisi dalam mega proyek akhirat ( fastabiqul khoirot ).

4. Membuang jauh-jauh pola hidup materealis dan konsumerisme yang cenderung memuaskan nafsu menjadi pola hidup qona’ah dan tabah menghadapi kesulitan hidup.

5. Mencoba merasionalkan keharusan iman kita kepada hari pembalasan ( akhirat ) yang ‘hanya’ mengandalkan keyakinan bulat-bulat pada firman Allah dan sabda rasul saw, dengan ilustrasi sederhana, yakni saat kita terserang flu, demam berdarah atau pun hipertensi dan stoke, maka kita akan berobat ke dokter spesialis dan akhirnya mendapatkan resep yang harus kita beli di apotik. Apakah kita akan berskieras menolak resep tersebut sebelum melihat dengan mata kepala sendiri pemrosesan obat tersebut di laboratorium?!

Jika terhadap ‘wasiat’ si dokter kita dapat mempercayainya bulat-bulat, walapun tidak sedikit pasien yang meninggal setelah dirawat secara intensif oleh dokter spsesialis, bukan? Maka pantaskah dalam permasalahan akhirat kita meragukan keterangan Rasulullah saw. yang mendapatkan wahyu dari Allah Sang Pemilik kerajaan akhirat? Syetan saja percaya akan eksistensi akhirat dengan segala konsekwansi logis yang akan diterimanya, sehingga mereka mencari kroni sebanyak-banyaknya dari kalangan manusia agar dapat diajak berame-rame menikamati siksaan neraka jahannam yang teramat pedih[4], lalu kenapa manusia justru berulah lebih bodoh mengabaikan ibadah dan menafikan pengadilan hari akhirat melebihi ulah para syetan dan iblis juragannya!? Wallahu a’lam.

b. pernik-pernik kebodohan kaum beriman[5]

Jika karena kesombongan dan ke-egoisan serta sikap menghamba kepada nafsu dan syahwat, sehingga orang-orang kafir atau musyrik mendapatkan predikat abadi sebagai ‘syetan pecundang’, maka orang-orang islam pun akan mendapatkan jatah kehinaan dan kenistaan yang sama manakala mereka memelihara salah satu virus berikut ini:

1. Suka mengabaikan perintah Allah dan melanggar laranganNya.

2. Selalu menuruti hawa nafsu dan meniru pola hidup syetan.

3. Rakus dan tamak pada harta-benda dan segala kenikmatan duniawi.

Tidak sedikit dari kalangan kita ( muslimin ) yang gemar bercermin dan sangat terobsesi atas kesuksesan materiil kaum kafir maupun fasiq, dan sebaliknya jarang sekali yang mau bercermin dan termotivasi oleh kesolihan seseorang, seolah-olah mereka telah sengaja melupakan kisah-kisah kehancuran ummat terdahulu yang kebetulan mendapatkan ujian dengan aneka jabatan dan kemewahan dari Allah seperti kasus kaum ‘Ad, Tsamud, Namrudz, Fir’aun dan Qarun yang mendapatkan limpahan karunia duniawi dari Allah yang tiada tara, namun ternyata dari harta benda dan jabatan itulah yang justru memicu kekufuran dan kesombongan mereka yang memancing murka Allah sehingga mereka akhirnya dibinasakanNya. So what?

Langkah termudah, aman dan efesien agar kita tidak teseret tradisi ( pola hidup dan pola pikir kaum kafir yang materealistis dan selalu menuruti kesenagan-syahwatnya ( hedonis ) adalah dengan menginjeksikan vaksin IKHLAS, SABAR dan SYUKUR secara kontinyu ( istiqomah ) ke dalam sel-sel darah kita yang memang sudah dicemari ( diracuni ) oleh syetan sejak nyawa kita ditiupkan ke embrio kita di rahim ibunda. Adapun cara mendapatkan ketiga vaksin tersebut secara bersamaan adalah dengan cara memperlemas syahwat dan hawa nafsu, yakni dengan rutin berpuasa limardhatillah ( tiada pamrih apapun selain merendahkan diri kepada Allah dan mengharap ridhoNya)[6], sehingga kita dapat selalu berjalan dalam rel iman yang benar yang tidak terhenti di stasiun Hubbud-dunia ( kemaruk harta dan kenikmatan dunia yang semu ). Selanjutnya kita harus berani memposisikan harta-benda, jabatan dan kemewahan ( kenikmatan ) dunia sebagaimana sewaktu kita terserang penyakit demam yang tinggi disertai sariawan yang cukup parah, maka aneka hidangan favorit yang lezat ternyata tidak mampu menggugah selera makan-minum kita.

Dan therapy yang tidak kalah manjurnya untuk meredam nafsu tamak dan serakah pada diri manusia terhadap harta, tahta dan wanita adalah sering mengunjungi dan menyantuni kaum faqir-miskin atau dhu’afa lainnya dan memperlakukannya sebagai saudara seiman yang pada gilirannya nanti akan terbina suasana ukhuwah yang harmonis yang didasari oleh mental yang kokoh dalam mempertahankan panji-panji iman dan amal solih di sepanjang hayatnya.


[1] Al Ghozali, Al kasyfu wat-tabyiin fii ghuruuril kholqi ajma’iin, halaman 4-9

[2] QS Kahfi 34

[3] Simak saja penuturan Al Qur’an surat 7 ( Al A’rof ) ayat 12

[4] Lihat QS 35 ( Al father ): 6

[5] Al ghozali, Al kasyfu wat-tabyiin fii ghuruuril kholqi ajma’iin, halaman 9-16

[6] Ihya Ulumiddin 3, halaman 30


[1] Terjemah bebas dari kitab “ Alkasyfu Wattabyin Fi ghururil kholqi Ajma’in, karya Al Ghazali.

[2] Al ghozali, Alkasyfu Wat-tabyin fi ghururil kholqi Ajma’in, halaman 1-4

[3] Terjemah, lihat QS 16 ( Annahl ): 49-50


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: